Memuat...
20 February 2026 14:40

Kaitan Erat Antara Logika dan Perasaan

Bagikan artikel

Dalam kehidupan sehari-hari, logika dan perasaan sering diposisikan sebagai dua hal yang berlawanan. Logika dianggap rasional dan objektif, sedangkan perasaan dipersepsikan sebagai subjektif dan emosional. Namun, kajian psikologi menunjukkan bahwa pemisahan ini tidak sepenuhnya tepat. Logika dan perasaan justru saling berkaitan erat dan bekerja bersama dalam membentuk cara manusia berpikir, mengambil keputusan, dan berperilaku.

Logika Tidak Pernah Terlepas dari Perasaan

Logika merupakan proses kognitif yang melibatkan penalaran, analisis, dan evaluasi informasi. Namun, proses berpikir logis selalu dipengaruhi oleh kondisi emosional individu. Menurut psikologi kognitif, penilaian rasional seseorang tidak hanya ditentukan oleh fakta objektif, tetapi juga oleh pengalaman subjektif dan emosi yang menyertainya (Walgito, 2010).

Perasaan berfungsi sebagai penyaring awal yang menentukan informasi mana yang dianggap penting, relevan, atau mengancam. Oleh karena itu, apa yang dianggap “logis” oleh seseorang seringkali dipengaruhi oleh keadaan emosinya saat itu.

Perasaan Dibentuk oleh Proses Kognitif

Sebaliknya, perasaan bukanlah reaksi spontan yang sepenuhnya irasional. Emosi muncul sebagai hasil dari proses penilaian kognitif terhadap suatu peristiwa. Cara individu menafsirkan situasi akan menentukan jenis dan intensitas emosi yang dirasakan (Sobur, 2016).

Sebagai contoh, kegagalan dapat menimbulkan perasaan kecewa, malu, atau justru termotivasi, tergantung pada makna yang diberikan individu terhadap kegagalan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa logika dan proses berpikir berperan penting dalam membentuk perasaan.

Logika dan Perasaan dalam Pengambilan Keputusan

Dalam proses pengambilan keputusan, logika dan perasaan bekerja secara simultan. Logika membantu individu menimbang konsekuensi, risiko, dan manfaat, sementara perasaan memberikan informasi mengenai nilai personal, kebutuhan emosional, dan makna subjektif dari pilihan tersebut (Sarwono, 2015).

Keputusan yang sepenuhnya mengabaikan perasaan cenderung sulit dijalani secara konsisten. Sebaliknya, keputusan yang hanya didasarkan pada perasaan tanpa pertimbangan logis berisiko menimbulkan masalah di kemudian hari. Keseimbangan antara keduanya memungkinkan individu mengambil keputusan yang adaptif dan bertanggung jawab.

Ketika Logika dan Perasaan Tampak Bertentangan

Konflik antara logika dan perasaan sering muncul ketika individu menghadapi dilema. Secara logis, seseorang mungkin memahami apa yang seharusnya dilakukan, tetapi secara emosional merasakan hal yang berbeda. Dalam psikologi, kondisi ini dipahami sebagai bagian dari dinamika internal yang wajar.

Konflik tersebut bukan kelemahan, melainkan sinyal bahwa individu sedang memproses informasi penting. Dengan refleksi yang memadai, konflik antara logika dan perasaan dapat menjadi dasar pertumbuhan psikologis dan pengambilan keputusan yang lebih matang (Semiun, 2006).

Integrasi Logika dan Perasaan

Psikologi memandang kemampuan mengintegrasikan logika dan perasaan sebagai indikator kematangan emosional. Individu yang mampu mengenali dan mengelola emosinya tanpa mengabaikan pertimbangan rasional cenderung memiliki penyesuaian diri yang lebih baik dalam berbagai situasi kehidupan.

Menyatukan logika dan perasaan bukan berarti menghilangkan emosi atau menekan rasionalitas, melainkan memberi ruang bagi keduanya untuk saling melengkapi. Logika memberikan struktur dan arah, sementara perasaan memberi makna dan kedalaman pada pengalaman manusia.

Logika dan perasaan bukanlah dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua sistem psikologis yang bekerja berdampingan. Keduanya membentuk cara manusia memahami realitas, merespons situasi, dan menentukan pilihan hidup. Dengan memahami kaitan erat antara logika dan perasaan, individu dapat menjalani kehidupan dengan lebih seimbang, sadar, dan manusiawi.

 

Assessment Indonesia adalah biro psikologi resmi yang menjadi pusat asesmen psikologi terpercaya, serta vendor psikotes terbaik di Indonesia.

 

Daftar Pustaka 

Sarwono, S. W. (2015). Pengantar psikologi umum. Jakarta: Rajawali Pers.

Semiun, Y. (2006). Kesehatan mental 1: Pandangan umum mengenai penyesuaian diri dan kesehatan mental manusia. Yogyakarta: Kanisius.

Sobur, A. (2016). Psikologi umum. Bandung: Pustaka Setia.

Walgito, B. (2010). Pengantar psikologi umum. Yogyakarta: Andi.

Azwar, S. (2017). Sikap manusia: Teori dan pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bagikan