Memuat...
09 February 2026 09:29

Ketika Gawai Menguasai Hidup: Memahami Kecanduan Digital dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental

Bagikan artikel

Perkembangan teknologi digital telah membawa banyak kemudahan dalam kehidupan manusia. Gawai membantu mempercepat komunikasi, memperluas akses informasi, serta mendukung aktivitas belajar dan kerja. Namun, di balik manfaat tersebut, muncul fenomena baru yang semakin mengkhawatirkan, yaitu kecanduan gawai. Banyak individu merasa sulit melepaskan diri dari ponsel, bahkan dalam situasi yang tidak memerlukannya. Kebiasaan ini perlahan memengaruhi kesehatan mental, hubungan sosial, serta kualitas hidup secara keseluruhan.

Kecanduan gawai dapat dipahami sebagai pola penggunaan perangkat digital yang berlebihan dan sulit dikendalikan, sehingga mengganggu fungsi sehari-hari. Seseorang yang mengalami kecanduan cenderung terus-menerus memeriksa ponsel, merasa cemas ketika tidak memegang gawai, dan mengabaikan aktivitas penting seperti belajar, bekerja, atau berinteraksi secara langsung dengan orang lain. Dorongan untuk terus terhubung dengan media sosial, permainan daring, maupun pesan instan menjadi sumber utama perilaku kompulsif ini.

Dari sisi psikologis, kecanduan gawai berkaitan erat dengan mekanisme penghargaan di otak. Notifikasi, pesan masuk, dan tanda suka pada media sosial memberikan sensasi menyenangkan yang memicu pelepasan dopamin. Lama-kelamaan, otak terbiasa mencari stimulasi tersebut, sehingga individu terdorong untuk terus menggunakan gawai. Ketika akses dibatasi, muncul perasaan gelisah, mudah marah, atau tidak nyaman. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketergantungan bukan hanya bersifat kebiasaan, tetapi telah memengaruhi regulasi emosi dan kontrol diri.

Dampak kecanduan gawai cukup luas. Secara emosional, individu dapat mengalami peningkatan stres, kecemasan, dan kesulitan berkonsentrasi. Paparan informasi berlebihan juga dapat memicu kelelahan mental dan rasa tidak puas terhadap diri sendiri, terutama ketika membandingkan kehidupan pribadi dengan citra ideal di media sosial. Secara sosial, interaksi tatap muka berkurang, kualitas hubungan menurun, dan muncul jarak emosional dalam keluarga maupun pertemanan. Dari sisi fisik, penggunaan gawai berlebihan dapat mengganggu pola tidur, menurunkan kualitas istirahat, serta memicu kelelahan mata dan ketegangan tubuh.

Remaja dan anak muda menjadi kelompok yang paling rentan terhadap kecanduan gawai. Pada fase perkembangan ini, individu sedang membentuk identitas diri dan membutuhkan pengakuan sosial. Media sosial sering menjadi sarana utama untuk mendapatkan validasi, sehingga penggunaan gawai meningkat tanpa disadari. Tanpa pendampingan yang tepat, kebiasaan ini dapat membentuk pola ketergantungan jangka panjang.

Upaya penanganan kecanduan gawai perlu dilakukan secara bertahap dan realistis. Langkah awal adalah meningkatkan kesadaran diri terhadap pola penggunaan gawai. Individu dapat mulai mencatat durasi penggunaan, mengenali situasi pemicu, serta menetapkan batas waktu harian. Membuat aturan sederhana, seperti tidak menggunakan ponsel sebelum tidur atau saat makan bersama keluarga, membantu membangun kontrol diri secara perlahan.

Selain itu, penting untuk mengganti waktu penggunaan gawai dengan aktivitas alternatif yang bermakna, seperti olahraga ringan, membaca buku, berinteraksi langsung dengan teman, atau mengembangkan hobi. Aktivitas ini membantu otak mendapatkan kepuasan yang lebih sehat dan berkelanjutan. Teknik relaksasi, seperti pernapasan dalam dan jeda digital singkat, juga dapat membantu menurunkan dorongan impulsif untuk terus membuka gawai.

Dalam konteks pencegahan, edukasi literasi digital menjadi kunci utama. Sekolah, keluarga, dan lembaga sosial perlu membekali individu dengan pemahaman tentang dampak psikologis penggunaan gawai berlebihan serta cara mengelola teknologi secara sehat. Orang tua dan pendidik juga berperan sebagai teladan dalam penggunaan gawai yang seimbang.

Kecanduan gawai bukanlah masalah yang harus disikapi dengan larangan keras, melainkan dengan pendekatan kesadaran, pengendalian diri, dan keseimbangan. Teknologi tetap dapat dimanfaatkan secara positif selama pengguna mampu mengatur batasannya. Dengan kebiasaan digital yang sehat, individu dapat menjaga kesehatan mental, memperkuat hubungan sosial, serta meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

 

Assessment Indonesia menghadirkan layanan asesmen komprehensif yang didukung psikolog profesional dan instrumen terstandar untuk membantu perusahaan memahami potensi karyawan secara lebih mendalam, karena memahami manusia berarti memahami masa depan organisasi.

 

Referensi:

Putri dkk. (2024). Penggunaan gadget dan perubahan perilaku remaja di sekolah menengah atas Tuban. Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia, 3(8), 376–383.

Bagikan