Bencana alam tidak hanya menghancurkan rumah, jalan, dan fasilitas umum, tetapi juga meninggalkan luka yang tidak terlihat, yaitu luka psikologis. Banyak penyintas bencana mengalami ketakutan berlebihan, sulit tidur, kecemasan, bahkan menarik diri dari lingkungan sosial. Kondisi ini sering kali menghambat proses pemulihan, meskipun secara fisik keadaan mulai membaik.
Dalam situasi seperti ini, pemulihan mental menjadi sama pentingnya dengan pemulihan fisik. Salah satu pendekatan yang terbukti efektif adalah dukungan psikososial, yaitu bantuan yang berfokus pada pemulihan kondisi emosional, sosial, dan psikologis individu maupun komunitas. Jurnal yang ditulis oleh Putra dan Rahmat (2025) menegaskan bahwa dukungan psikososial memiliki peran besar dalam membangun ketahanan mental penyintas pascabencana.
Trauma Pascabencana dan Dampaknya
Trauma pascabencana tidak selalu tampak jelas. Ada yang mengalaminya dalam bentuk mimpi buruk, rasa takut berlebihan, mudah panik, atau kehilangan motivasi hidup. Jika tidak ditangani dengan baik, trauma dapat berkembang menjadi gangguan stres pascatrauma (PTSD) yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Trauma juga memengaruhi hubungan sosial. Penyintas bisa merasa terisolasi, sulit percaya kepada orang lain, atau kehilangan rasa aman. Oleh karena itu, pemulihan tidak cukup hanya dengan memperbaiki bangunan dan infrastruktur, tetapi juga perlu memulihkan kondisi psikologis dan hubungan sosial masyarakat.
Apa Itu Dukungan Psikososial?
Dukungan psikososial adalah berbagai bentuk bantuan non-medis yang bertujuan membantu individu mengelola stres, menenangkan emosi, membangun rasa aman, dan kembali terhubung dengan lingkungan sosial. Dukungan ini dapat diberikan oleh psikolog, relawan terlatih, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, bahkan keluarga.
Menurut Putra dan Rahmat (2025), pendekatan psikososial harus bersifat holistik, artinya tidak hanya fokus pada individu, tetapi juga melibatkan keluarga dan komunitas. Ketika lingkungan sekitar mendukung, proses pemulihan akan berjalan lebih cepat dan berkelanjutan.
Bentuk Intervensi Psikologis Sederhana
Beberapa intervensi psikologis sederhana yang efektif dalam trauma healing antara lain:
-
Psychological First Aid (PFA): Memberikan dukungan awal berupa rasa aman, pendampingan emosional, dan informasi yang menenangkan setelah bencana.
-
Terapi Seni (Art Therapy): Membantu penyintas mengekspresikan perasaan melalui gambar, warna, atau karya kreatif, terutama pada anak-anak.
-
Terapi Bermain (Play Therapy): Membantu anak memproses pengalaman traumatis melalui aktivitas bermain yang menyenangkan.
-
Biblioterapi: Menggunakan bahan bacaan inspiratif atau reflektif untuk membantu individu memahami emosi dan membangun harapan.
Intervensi ini relatif mudah diterapkan, tidak membutuhkan alat yang mahal, dan dapat dilakukan di lingkungan komunitas.
Membangun Ketahanan Mental dan Resiliensi Sosial
Ketahanan mental atau resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bangkit kembali setelah mengalami kesulitan. Resiliensi tidak muncul dengan sendirinya, tetapi dapat dibangun melalui dukungan sosial yang konsisten, lingkungan yang aman, dan aktivitas yang bermakna.
Ketika komunitas saling mendukung, rasa kebersamaan meningkat, dan individu merasa tidak sendirian menghadapi trauma. Hal ini mempercepat pemulihan dan membantu masyarakat menjadi lebih siap menghadapi krisis di masa depan.
Tantangan Pelaksanaan di Lapangan
Walaupun dukungan psikososial sangat bermanfaat, penerapannya masih menghadapi beberapa kendala, seperti:
-
Keterbatasan jumlah tenaga profesional.
-
Minimnya pelatihan relawan.
-
Program yang hanya berjalan sesaat setelah bencana.
-
Kurangnya kebijakan nasional yang terintegrasi.
Tanpa keberlanjutan program, efek pemulihan psikologis sering tidak bertahan lama.
Peran Lembaga Psikologi
Lembaga psikologi memiliki peran penting dalam:
-
Melatih relawan dan pendamping psikososial.
-
Menyusun modul intervensi sederhana yang mudah diterapkan.
-
Mengedukasi masyarakat tentang kesehatan mental.
-
Mengembangkan program pemulihan berbasis komunitas.
Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, lembaga sosial, dan masyarakat menjadi kunci agar dukungan psikososial dapat berjalan optimal.
Dukungan psikososial terbukti menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan mental penyintas bencana. Intervensi sederhana seperti PFA, terapi seni, terapi bermain, dan biblioterapi mampu membantu individu mengelola trauma dan bangkit secara emosional. Dengan dukungan berkelanjutan dan peran aktif lembaga psikologi, masyarakat dapat menjadi lebih tangguh dalam menghadapi krisis di masa depan.
Assessment Indonesia menghadirkan layanan asesmen komprehensif yang didukung psikolog profesional dan instrumen terstandar untuk membantu perusahaan memahami potensi karyawan secara lebih mendalam, karena memahami manusia berarti memahami masa depan organisasi.
Referensi:
Putra, A. R., & Rahmat, H. K. (2025). Membangun ketahanan mental pasca bencana: Peran dukungan psikososial dalam trauma healing. Widya Holistika: Jurnal Riset Ilmiah dan Pengembangan, 1(1), 9–14 https://journals.hakhara-institute.com/index.php/WH/article/view/8/8