Peran Kepribadian dalam Relasi Sosial
Kepribadian merupakan pola karakteristik yang relatif stabil dalam cara berpikir, merasa, dan berperilaku. Salah satu teori yang banyak digunakan adalah Big Five Personality Traits oleh McCrae dan Costa (2003), yang mencakup neuroticism, extraversion, openness, agreeableness, dan conscientiousness. Penelitian menunjukkan bahwa trait kepribadian memiliki kontribusi signifikan terhadap kepuasan hidup individu, yang juga berkaitan erat dengan kualitas hubungan interpersonal .
Individu dengan tingkat agreeableness dan extraversion yang tinggi cenderung lebih mudah membangun hubungan yang hangat, kooperatif, dan suportif. Sebaliknya, individu dengan neuroticism tinggi lebih rentan mengalami konflik emosional, yang dapat menurunkan kepuasan dalam hubungan.
Kepuasan Hubungan Interpersonal
Kepuasan dalam hubungan interpersonal merujuk pada sejauh mana individu merasa puas, nyaman, dan terpenuhi dalam interaksi sosialnya. Menurut teori Subjective Well-Being oleh Diener (2009), kepuasan merupakan evaluasi kognitif terhadap kualitas hidup, termasuk hubungan sosial.
Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa kualitas hubungan interpersonal, seperti komunikasi efektif dan dukungan sosial, berpengaruh signifikan terhadap kepuasan individu . Hal ini menegaskan bahwa hubungan yang positif tidak hanya dipengaruhi oleh situasi, tetapi juga oleh karakter kepribadian yang mendasarinya.
Interaksi Kepribadian dan Kepuasan Relasi
Teori Social Exchange oleh Homans (1958) menjelaskan bahwa hubungan interpersonal didasarkan pada pertukaran manfaat dan biaya. Kepribadian memengaruhi bagaimana individu menilai dan merespons interaksi tersebut.
Sebagai contoh, individu dengan conscientiousness tinggi cenderung menjaga komitmen dan tanggung jawab dalam hubungan, sehingga meningkatkan kepuasan. Sementara itu, agreeableness berperan dalam menciptakan keharmonisan dan mengurangi konflik. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal yang baik meningkatkan kepuasan kerja maupun hubungan sosial secara umum .
Selain itu, harga diri juga dapat menjadi mediator antara kepribadian dan kebahagiaan dalam relasi, di mana individu dengan kepribadian positif cenderung memiliki harga diri lebih tinggi yang berdampak pada kualitas hubungan .
Kesimpulan
Kepribadian memiliki peran penting dalam menentukan kepuasan dalam hubungan interpersonal. Trait seperti agreeableness, extraversion, dan conscientiousness cenderung meningkatkan kualitas hubungan, sementara neuroticism dapat menjadi hambatan. Selain itu, komunikasi, dukungan sosial, dan persepsi individu terhadap hubungan turut memperkuat pengaruh tersebut. Dengan memahami kepribadian diri dan orang lain, individu dapat membangun hubungan yang lebih sehat, harmonis, dan memuaskan.
Percayakan asesmen karyawan Anda pada biro psikologi resmi Assessment Indonesia, pusat asesmen psikologi dengan layanan terbaik.
Daftar Pustaka:
Diasmoro, O. (2016). Hubungan komunikasi interpersonal dengan kepuasan kerja karyawan dewasa awal bagian produksi PT. Gangsar Tulungagung. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 5(1). https://doi.org/10.22219/jipt.v5i1.3885
Kiswantomo, H., & Theofanny. (2020). Kontribusi trait kepribadian terhadap kepuasan hidup mahasiswa. INQUIRY: Jurnal Ilmiah Psikologi, 12(1). https://doi.org/10.51353/inquiry.v12i01.398
Lutfiyah, L., & Takwin, B. (2018). Hubungan antara kepribadian dan kebahagiaan dengan harga diri sebagai mediator. Jurnal Psikologi Teori dan Terapan, 9(1), 17–26. https://doi.org/10.26740/jptt.v9n1.p17-26
Maulana, D., & Triandani, S. (2022). Pengaruh self efficacy dan hubungan interpersonal terhadap kepuasan kerja karyawan. Jurnal Ekonomi dan Ilmu Sosial (JEIS), 1(2), 90–96.
Wahyu, A., Umar, Z., & Ardan, M. (2025). Analisis pengaruh hubungan interpersonal terhadap kepuasan kinerja pegawai di RSUD I.A Moeis Samarinda. Evolusi: Jurnal Sains dan Manajemen, 13(1), 21–30. https://doi.org/10.31294/evolusi.v13i1.7966