Tidak semua anak mudah bergaul dan percaya diri ketika berada di lingkungan sosial. Sebagian anak menunjukkan sifat pemalu yang berlebihan, seperti takut berbicara, menghindari interaksi, atau merasa cemas saat bertemu orang baru. Kondisi ini dikenal sebagai shyness.
Shyness bukan sekadar sifat pendiam biasa. Anak dengan shyness cenderung mengalami hambatan dalam menjalin pertemanan, berkomunikasi, serta mengekspresikan kebutuhan dan perasaannya. Apabila tidak ditangani, kondisi ini dapat berdampak pada perkembangan sosial, prestasi belajar, serta kepercayaan diri anak di masa depan. Oleh karena itu, diperlukan bentuk intervensi psikologis yang sederhana, mudah diterapkan, namun tetap efektif untuk membantu anak mengembangkan keterampilan sosialnya. Salah satu pendekatan yang terbukti efektif adalah pelatihan keterampilan sosial menggunakan teknik modeling.
Memahami Shyness pada Anak
Shyness ditandai dengan perasaan takut, cemas, serta kecenderungan menghindari situasi sosial, terutama ketika anak merasa sedang dinilai oleh orang lain. Anak yang pemalu sering kali berbicara dengan suara pelan, kesulitan memulai percakapan, dan lebih memilih mengamati daripada terlibat langsung dalam aktivitas sosial.
Shyness dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pola asuh orang tua, pengalaman sosial yang kurang menyenangkan, lingkungan keluarga, serta kebiasaan anak sejak dini. Anak yang jarang memperoleh kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan luar cenderung memiliki keterbatasan dalam melatih kemampuan sosialnya. Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka waktu lama tanpa pendampingan yang tepat, anak dapat semakin menarik diri, merasa rendah diri, dan mengalami kesulitan dalam membangun relasi sosial.
Keterampilan Sosial sebagai Kunci Perkembangan Anak
Keterampilan sosial merupakan kemampuan anak untuk berinteraksi secara efektif dengan orang lain, memahami situasi sosial, mengikuti norma dan aturan, serta mengekspresikan diri secara tepat. Keterampilan ini mencakup kemampuan menyapa, berbicara dengan jelas, menjaga kontak mata, bekerja sama, serta menyelesaikan permasalahan sosial.
Anak yang memiliki keterampilan sosial yang baik akan lebih mudah diterima oleh lingkungannya, mampu menjalin pertemanan, serta memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi. Sebaliknya, anak yang kurang terampil secara sosial berisiko mengalami isolasi sosial dan hambatan dalam perkembangan emosional. Mengingat keterampilan sosial dapat dipelajari, latihan yang tepat menjadi sangat penting untuk dilakukan sejak usia dini.
Teknik Modeling sebagai Intervensi Psikologis Sederhana
Modeling merupakan teknik pembelajaran di mana anak belajar melalui proses mengamati dan meniru perilaku orang lain. Dalam konteks psikologi, modeling membantu anak memperoleh gambaran perilaku yang tepat, kemudian mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam penelitian ini, teknik modeling diterapkan dalam beberapa bentuk, yaitu:
-
Modeling simbolik, yaitu anak menonton video yang menampilkan contoh perilaku sosial positif.
-
Modeling langsung, yaitu anak mengamati secara langsung contoh perilaku yang ditunjukkan oleh terapis dan orang tua.
-
Role-play, yaitu anak mempraktikkan perilaku yang telah diamati dalam situasi yang disimulasikan.
Teknik ini tergolong sederhana karena tidak memerlukan alat khusus, dapat dilakukan di rumah maupun di sekolah, serta melibatkan lingkungan terdekat anak sebagai model perilaku.
Hasil Intervensi terhadap Perilaku Sosial Anak
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keterampilan sosial pada anak setelah mengikuti intervensi. Anak mulai menunjukkan keberanian untuk:
-
menyapa orang lain terlebih dahulu,
-
berbicara dengan suara yang lebih jelas dan percaya diri,
-
mengungkapkan keinginan saat berbelanja atau berinteraksi,
-
menjawab pertanyaan guru di sekolah, serta
-
bermain dan menjalin relasi dengan teman sebaya.
Perubahan ini menunjukkan bahwa teknik modeling efektif dalam membantu anak mengurangi rasa malu dan meningkatkan keberanian dalam berinteraksi sosial.
Peran Lingkungan dalam Keberhasilan Intervensi
Keberhasilan intervensi tidak hanya ditentukan oleh metode yang digunakan, tetapi juga oleh dukungan lingkungan, terutama keluarga dan sekolah. Orang tua yang konsisten memberikan kesempatan kepada anak untuk berlatih interaksi sosial dapat mempercepat perkembangan keterampilan sosial anak. Lingkungan yang aman, tidak menghakimi, serta memberikan dukungan positif akan membantu anak merasa nyaman dalam mencoba perilaku baru tanpa rasa takut gagal.
Assessment Indonesia menghadirkan layanan asesmen komprehensif yang didukung oleh psikolog profesional serta instrumen terstandar untuk membantu perusahaan memahami potensi karyawan secara lebih mendalam, karena memahami manusia berarti memahami masa depan organisasi.
Referensi
Said, A. A., & Iswinarti. (2024). Improving social skills in children with personality traits shyness. Procedia: Studi Kasus dan Intervensi Psikologi, 12(4), 195–201. https://doi.org/10.22219/procedia.v12i4.29919